SELAMAT DATANG DIWEBSITE PUSSENARMED

Sejarah Armed

PDFPrintE-mail

 

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

      Dinamika sejarah terletak pada kemampuan untuk memandang ketiga dimensi waktu sekaligus, masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang dalam satu kesatuan yang bulat dan utuh.

     Penulisan peristiwa-peristiwa bersejarah di masa lampau diharapkan membuat kita lebih bijaksana dalam menghadapi dan melaksanakan berbagai penugasan. Nilai-nilai pragmatis yang merupakan salah satu nilai sejarah agar tidak sekedar menjadi deretan kronologi waktu semata. Bagi Korps Armed sejarah merupakan ilmu pengetahuan untuk dapat dirasakan manfaatnya bagi generasi penerus.

       Penulisan Sejarah Satuan Armed TNI AD dimulai sejak awal abad ke-4 ketika Raja Dionysius dari Syracuse menggunakan peralatan pelempar benda jarak jauh pada saat melaksanakan penyerbuan ke Sicilia. Setelah diketemukannya bahan peledak pada tahun 1336, alat pelempar ini disempurnakan dalam bentuk meriam. Di Indonesia, Artileri baru dikenal sejak awal abad ke-16 pada saat Raja Patiunus (anak Raden Patah) dari Kerajaan Demak menyerang Portugis di Malaka. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya kerajaan-kerajaan di Indonesia dan para pejuang kemerdekaan mulai melengkapi dan menggunakan meriam Armed guna melawan dan mengusir penjajah yang menguasai wilayah Nusantara.

     Sejarah perjuangan Bangsa Indonesia tersebut diatas telah membuktikan kepada kita selaku generasi penerus, bahwa Armed memiliki peranan penting dalam berbagai  bentuk tugas sampai saat ini. Akan tetapi peranan tersebut belum tersusun dengan baik dalam suatu Buku Sejarah Satuan, untuk diketahui oleh para generasi penerus bangsa pada umumnya dan penerus Armed pada khususnya.

     Mencermati hal tersebut diatas, maka perlu disusun Buku Sejarah Satuan Armed TNI AD yang berisi tentang latar belakang pembentukan Korps Artileri, perkembangan  para pemimpin, organisasi, persenjataan dan pengabdian yang dilakukan oleh prajurit Korps Armed sejak masa perjuangan sampai dengan sekarang, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan kepustakaan dibidang sejarah dan guna pengembangan Satuan Armed dimasa yang akan datang.

 

BAB II

SEKITAR PEMBENTUKAN

 

1.    Latar Belakang Pembentukan.

a.    Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, diawali dengan adanya Laskar yang tergabung dalam wadah Peta, Heiho dan KNIL maka pada tanggal 22 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat/Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Rakyat Indonesia (TRI) kemudian menjadi TNI, ABRI, yang kemudian hingga kini kita kenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI).

b.    Melalui perjuangan pada masa itu, para pejuang berhasil melucuti senjata Belanda dan Jepang termasuk senjata meriamnya. Hal ini terjadi di Surabaya           (gedung Don Bosco) ataupun di daerah-daerah lain. Beberapa jenis meriam yang berhasil direbut/dirampas oleh para pejuang kita antara lain : meriam 75 mm/ Lapangan, meriam 105 mm dan meriam pantai. Meriam hasil rampasan tersebut merupakan cikal bakal Alutsista Korps Artileri dalam BKR, yang kemudian digunakan untuk melaksanaan pertempuran diberbagai daerah antara lain :

1)        TKR Laut menggunakan meriam 105 mm/How melaksanakan pertempuran di pantai Kedung Cowek Surabaya .

2)        TKR menggunakan meriam 105 mm dan meriam 40 mm bertempur melawan pasukan Infanteri dan tank Sekutu (Inggris) di Gedongan/Budaran.

3)         Pasukan Artileri yang terdiri dari Baterai Artileri BS Purworejo dan Purwokerto bertempur membantu pasukan Infanteri melawan pasukan Sekutu/Inggris pada bulan Oktober 1945 pada peristiwa Palagan Ambarawa.

4)        Pada pertempuran yang terjadi disekitar Semarang, pasukan Artileri membantu gerak maju pasukan Infanteri di Tuntang/Salatiga ke Pudak Payung.

Dalam pertempuran tersebut gugur prajurit Dargun bersama 2 orang Artileris lainnya. Hal ini terjadi ketika pasukan Artileri Solo mendapat serangan pesawat terbang musuh di Bawen.

5)         Pasukan Artileri Pantai-1 berhasil menenggelamkan kapal patroli Belanda pada Bulan Juli 1947 di Cimiring dan Karang Bolong Cilacap. Namun dalam serangan balasan pesawat terbang Belanda, maka gugurlah Lettu Surip, Lettu Sastrodihardjo, Letnan Sastrodimedjo, Serma Sirin beserta 45 anggota Artileri lainnya dalam pertempuran di Cimiring dan Karang Bolong Cilacap.

6)        Pasukan Artileri Divisi Rencong berhasil merusakkan 1 kapal perang, 1 pesawat terbang dan menembak jatuh pesawat terbang Belanda pada bulan Nopember 1946 di Lho’nga Aceh.

c.      Dengan gelar dislokasi Satuan Artileri yang tersebar diseluruh Indonesia, maka Satuan Artileri mulai dibentuk dan diorganisir dalam hubungan kelompok-kelompok/  seksi-seksi sampai dengan hubungan tingkat Resimen. Atas saran Mayor R.M. Pratikno Soerjo Soermarno kepada Kepala Staf Tentara, saat itu dijabat oleh Letjen TNI Urip Soemohardjo, maka pada tanggal 4 Desember 1945 disahkan Korps Kesenjataan Artileri yang merupakan bagian dari Jawatan Persenjataan Markas Besar Tentara (MBT) dan berkedudukan di Yogyakarta.

Adapun susunan pejabat Inspektur Artileri pada saat itu adalah  :

1)        Kepala Bagian                 :   Mayor R.M Pratikno Soerjo Soemarno

2)        Wakil Kepala Bagian         :   Kapten R.A. Kadir Prawiraatmaja.

3)        Kepala Persenjataan        :   Kapten R.M. Suyoto.

4)        Kepala Personalia            :   Lettu C.H. Wowilling.

5)        Kepala Tata Usaha          :    Lettu Arwadi.

6)       Kepala Keuangan             :    Lettu Sarpan

7)        Ajudan                          :   Letda S. Hadinoto

 

2.    Pembentukan Satuan  Artileri  pada Masa TKR.

a.      Artileri Komando I di Tasikmalaya dibawah pimpinan Mayor R. Abdul Kadir Prawiraatmadja.

b.      Artileri Komando II (termasuk Artileri Pantai I) di Cilacap dengan Komandannya Mayor Ch. W  Wowiling.

c.      Artileri Komando III di Magelang (kemudian menjadi Batalyon Artileri ”A”) dibawah pimpinan Mayor R. A Satari.

d.      Artileri Komando IV di Surakarta (kemudian menjadi Batalyon Artileri ”B”) dibawah pimpinan Mayor Suwardi Brototenoyo.

e.      Artileri Komando VI di Surabaya (kemudian menjadi Batalyon Artileri ”C”) dibawah pimpinan Mayor Minggu.

f.       Artileri Komando VII di Malang dipimpin Mayor Sofyan Harun dan kemudian diganti Mayor R.A Satari yang selanjutnya dilebur/digabungkan ke Batalyon Artileri ”A“ di Magelang.

g.      Artileri Pantai II di Sembulungan Banyuwangi dibawah pimpinan Kapten Supardi.

h.      Baterai Bergerak (Mobil I) Diponegoro di Yogyakarta dibawah pimpinan Lettu Soegirman.

i.       Baterai Artileri Divisi III Diponegoro di Yogyakarta dibawah pimpinan Sugiyono yang kemudian digabung dengan Batalyon Artileri Purworedjo (pasukan Jenggot) pimpinan Soetardi Kabiyono.

j.        Resimen Artileri Sumatera Utara dibawah pimpinan Nurdin Suffi yang kemudian dilebur menjadi Komandon Artileri Divisi X Sumatra Utara dibawah pimpinan Mayor Nyak Neh, dengan 3 Baterai bertahan disekitar Kotaraja, Lho’nga Aceh Timur.

 

 

BAB III

PERKEMBANGAN

 

3.     Unsur Pimpinan Artileri Medan TNI AD.

 

a.        Pada masa revolusi fisik, Kesenjataan Artileri lahir dalam bentuk suatu bagian dari Jawatan Persenjataan yaitu pada tanggal 4 Desember 1945. Berkat kepemimpinan Mayor R.M. Pratikno Kusumo Soerjo Soemarno pada tanggal 4 Desember 1945, dibentuk dan disahkan Markas Artileri yang berkedudukan di Yogyakarta oleh Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara Letnan Jenderal Urip Soemohardjo, bertepatan dengan hari jadi Artileri Internasional. Pada tanggal 1 Juni 1946 disahkan pembentukan Inspektorat Artileri Angkatan Darat dengan Inspektur pertama R.M. Pratikno Kusumo Soerjo Soemarno dengan pangkat Letnan Kolonel.

 b.      Selama Letnan Kolonel R.M. Pratikno Kusumo Soerjo Soemarno menjabat sebagai pimpinan, kecabangan Artileri mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga Artileri di seluruh Indonesia dapat dipersatukan tanpa ada kesulitan. Namun sangat disesalkan bahwa dalam Clash II beliau dibunuh oleh gerombolan yang tak bertanggung jawab di desa Djarowo (Boyolali) pada tanggal 1 Januari 1949. Sepeninggal beliau Artileri mengalami masa suram, sehingga Inspektorat Artileri diperkecil menjadi Markas Besar Komando Djawa (MBKD) bagian Artileri yang berkedudukan di Kota Baru Yogyakarta.

 c.       Pada tanggal 23 Pebruari 1950 Staf MBKD bagian Artileri diperintahkan untuk pindah ke Jakarta dengan Komandan Kapten Abdul Kadir Prawiraatmadja. Staf MBKD bagian Artileri diganti menjadi Komando Artileri Angkatan Darat yang berkedudukan di Kebon Sirih No. 46 Jakarta. Tugas pimpinan Artileri pada saat itu adalah mengkoordinir satuan-satuan yang berada di Jawa, Sumatera dan daerah-daerah lain. Setelah tercapainya pengakuan kedaulatan atas Indonesia dari Belanda dan untuk menambah personil dilakukan dengan cara memanggil kembali prajurit-prajurit Artileri yang masih memenuhi syarat dan menerima dari anggotaKesenjataan Infanteri diantaranya Brigif 17/TP. Guna memperoleh kader-kader Artileri yang dapat melanjutkan pada tingkat kesenjataan yang modern dan lebih maju maka diperlukan adanya suatu pendidikan Artileri.


Pusat Pendidikan Artileri (PP Art) Tahun 1953

 

d.      Pada tanggal 1 April 1950 dilaksanakan penyerahan Opleiding Centrum Artilerie dari missi Militer Belanda dan pada tanggal 1 Juni 1950 dirubah menjadi Pusat Pendidikan Artileri (PPArt) dengan Direktur pertamanya adalah Kapten R.A. Satari yang berkedudukan di Baros, Cimahi-Bandung.

 

 

4.    Perkembangan Organisasi Satuan Artileri Medan TNI AD.

a.    Pada masa mempertahankan Kemerdekaan, bersamaan dengan terbentuknya TKR maka lahir pasukan-pasukan Artileri TKR dengan sebutan sebagai berikut  :

1)    Artileri Komando I di Tasikmalaya.

2)    Artileri Komando II (termasuk Artileri Pantai I) di Cilacap.

3)    Artileri Komando III di Magelang (kemudian menjadi Batalyon Artileri "A").

4)    Artileri Komando IV di Surakarta (kemudian menjadi Batalyon Artileri ”B”).

5)    Artileri Komando VI di Surabaya (kemudian menjadi Batalyon Artileri ”C”).

6)       Artileri Komando VII di Malang.

7)       Artileri Pantai II di Sembulungan Banyuwangi.

8)       Baterai Bergerak (Mobil I) Diponegoro di Yogyakarta.

9)       Baterai Artileri Divisi III Diponegoro di Yogyakarta.

10)      Resimen Artileri Sumatera Utara yang kemudian dilebur menjadi Komando Artileri Divisi X Sumatera Utara dengan 3 Baterai bertahan disekitar Kotaraja, Lho’nga Aceh Timur.